Menurut Rahmadi (2007) banyak orang tua yang bingung menyaksikan perubahan sikap anak-anaknya yang tiba-tiba tidak mau sekolah. Padahal sebelumnya, anak-anak mereka tidak demikian. Mereka sangat antusias untuk pergi ke sekolah. Orang tua biasanya tidak hanya bingung dengan perubahan sikap saja, tetapi juga kuatir dengan alasan-alasan yang dikemukakan si anak.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan, sekitar 6,3% anak-anak berusia 3-5 tahun mengalami fobia sekolah. Rata-rata usia anak yang mengalami sekitar 3-5 tahun yang dimana dalam masa ini biasanya anak sedang menempuh pendidikan pra formal. Studi pendahuluan di TK Anak Saleh Malang didapatkan 60% orang tua menyatakan anaknya mengalami fobia sekolah dan 40% anaknya tidak mengalami fobia sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan peran orang tua dalam menghadapi fobia sekolah pada anak di TK Anak Saleh Malang. Penelitian ini adalah deskriptif dengan desain penelitian distribusi frekuensi.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 2-8 Juni 2009 di Taman Kanak-kanak Anak Saleh Malang, dengan jumlah sampel 29 responden, secara purposive sampling yaitu seluruh siswa-siswi TK Anak Saleh kelas A yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan orang tua tentang fobia sekolah kurang baik sebanyak 16 responden (55,2%), penyebab fobia sekolah paling banyak adalah separation anxiety (48,3%), dan peran orang tua yang kurang baik sebanyak 15 responden (51,7%).
Saran dari penelitian ini adalah diharapkan setelah diberikan leaflet tentang fobia sekolah, meliputi pengertian, tanda-tanda, waktu terjadinya, lama terjadinya, serta penanganan fobia sekolah maka dapat menambah informasi pada orang tua yang anaknya tidak mengalami fobia sekolah untuk mencegah terjadinya fobia sekolah pada anak sejak dini dan bagi orang tua yang anaknya mengalami fobia sekolah dapat mengerti cara mengatasi fobia sekolah yang terjadi pada anaknya.
